MAKALAH
Peran Guru Melawan Kesenjangan Pendidikan
Di Pelosok Negeri Bagi Generasi Muda
Disusun Oleh :
Phadma Nila
SMA NEGERI
10 SAMARINDA
2014
Kata Pengantar
Segala
Puji bagi Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Penyayang, karena hidup, kesehatan, dan
rahmatnya saya mampu menuangkan ide
dalam penulisan makalah yang berjudul ‘Peran Guru Melawan Kesenjangan
Pendidikan Di Pelosok Negeri Bagi
Generasi Muda
” yang akan digunakan
dalam tugas akhir semerter kelas XI (Sebelas) SMA saya dan sekaligus dapat digunakan serta
dimanfaatkan bagi saya dan juga pembaca.
Saya ucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang terlibat dalam proses pembuatan makalah ini. Tidak ada yang
mampu saya lakukan tanpa teman-teman yang telah mendukung makalah ini tercipta.
Tidak ada manusia yang sempuna maka,
tak lupa saya sampaikan maaf apabila dalam penulisan makalah ini masih terdapat
kesalahan dalam entuk fisik maupun isi. Sehingga kritik dan saran dari para
pembaca sangatlah saya butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.
Samarinda,
23 Mei 2014
Penulis
(Phadma Nila)
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kesuksesan
sebuah bangsa ditentukan dari generasi mudanya. Kesuksesan generasi muda suatu
bangsa ditentukan oleh berbagai faktor, faktor tersebut meliputi faktor
internal da eksternal. Faktor internal berasal dari diri pribadi bangsa itu
sendiri sedangkan faktor eksternalnya berasal dari lingkungan keluarga, social,
pergaulan teman, dan yang tak kalah terpenting adalah pendidikan di sekolah.
Pendidikan
adalah penyumbang terbesar jasa mensukseskan generasi muda Indonesia.
Pendidikan diperuntukkan bagi seluruh anak Indonesia yang sudah jelas di
tuangkan pada konstitusi kita bahwa “Setiap warga Negara berhak mendapat
pendidikan”(pasal 31 ayat 1). Selain itu “setiap warga Negara wajib mengikuti
pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”(pasal 31 ayat 2). Ini
membuktikan bahwa pendidikan sangat penting dan menjadi perhatian setiap
kalangan.
Memandangi
pendidikan saat ini, masalah yang selalu
dibahas adalah mengenai pemerataan
pendidikan dan standarisasi pendidikan. Tidak hanya kalangan pemerintahan yang
sibuk membahasnya , peserta didik dan pengajar pun ikut disibukkan dengan
problema ini. Seperti baru-baru saja, pendidikan Indonesia digemparkan dengan
perubahan kurikulum 2013 yang baru dicanangkan oleh menteri pendidikan. Semua
kalangan pendidikan mulai dari tenaga pengajar dan peserta didik dibingungkan olehnya. Belum
adanya kesiapan tentang prosedur
kurikulum, metode pengajaran baru yang belum banyak diketahui oleh guru, dan
yang paling utama adalah masalah pemerataan pendidikan di pelosok Indonesia
yang masih belum tuntas adalah faktor penyebab perubahan kurkulum ini gagal
dalam pelaksanaannya yang dibuktikan dengan tidak semua sekolah yang bisa dan
mampu melaksanakan kurikulum tersebut.
Kesuksesan
pendidikan suatu Negara dibuktikan dengan pendidikan yang merata dari kota
hingga kepelosok, sedangkan di Indonesia masalah pemerataan tak kunjung tuntas
ini yang harus kita berikan perhatian utama terhadap pendidikan Indonesia.
Faktanya saja di pelosok Kalimantan timur khusunya daerah berau masih banyak
sekolah yang gurunya dapat dikatakan sangatlah kurang dan diperkirakan 1:70
antara guru dan peserta didiknya. Sungguh
sedih dan meresahkan. Inilah yang membuat saya tersentuh untuk mengkaji
dan bercita cita untuk menjadi guru yang berkompeten dan mau mengabdikan diri
di pelosok guna mengembangkan pendidikan pada generasi muda di seluruh
Indonesia karena tidak menutup kemungkinan bahwa di pelosok masih menyimpan
generasi mutiara yang mampu memajukan Indonesia.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apakah penyebab pemerataan pendidikan di
Indonesia belum kunjung tuntas?
2.
Apakah kendala pendidikan di
sekolah-sekolah pelosok Indonesia?
3.
Apakah ada hubungan antara tenaga
pendidik dan pemerintah dalam masalah pemerataan pendidikan di Indonesia?
4.
Bagaimana solusi bagi permasalahan
pendidikan di Indonesia saat ini?
C.
Tujuan
Makalah
1.
Mengetahui penyebab masalah pemerataan
pendidikan yang tak kunjung selesai.
2.
Mengetahui kendala pendidikan di
sekolah-sekolah pelosok Indonesia.
3.
Mengetahui hubungan antara tenaga
pendidik dan pemerintahan dalam masalah pemerataan pendidikan di Indonesia.
4.
Mencari solusi bagi permasalahan
pemerataan pendidikan di Indonesia.
D.
Manfaat
Makalah
1.
Memberikan informasi kepada pembaca
mengenai masalah pedidikan di indonesaia
2.
Memberikan informasi mengenai
kendala-kendala pendidikan di pelosok Indonesia
3.
Memberikan informasi mengenai hubungan
antara tenaga pendidik dan pemerintah dalam kontriusi pengembangan pendidikan
di Indonesia
4.
Memberikan informasi dan pengetahuan
mengenai solusi bagi permasalahan pendidikan Indonesia meliputi, pemerataan,
kuota kebutuhan guru, fasilitas pendidikan dan lain-lain.
BAB
II
PEMBAHASAN
Generasi Muda adalah terjemahan dari
young generation lawan dari old age. Youth mengandung arti populasi remaja/anak
muda/pemuda yang sedang membentuk dirinya. Melihat kata "Generasi
muda" yang terdiri dari dua kata yang majemuk, kata yang kedua adalah
sifat atau keadaan kelompok individu itu masih berusia muda dalam kelompok usia
muda yang diwarisi cita-cita dan dibebani hak dan kewajiban, sejak dini telah
diwarnai oleh kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan politik. Maka dalam
keadaan seperti ini generasi muda dari suatu bangsa merupakan "Young
Citizen". Pengertian generasi muda erat hubungannya dengan arti generasi
muda sebagai generasi penerus. Yang dimaksud "Generasi Muda" secara
pasti tidak terdapat satu definisi yang dianggap paling tepat akan tetapi
banyak pandangan yang mengartikannya tergantung dari sudut mana masyarakat
melihatnya. Namun dalam rangka untuk pelaksanaan suatu program pembinaan bahwa
"Generasi Muda" ialah bagian suatu generasi yang berusia 0 – 30
tahun.
Untuk
lebih dapat mengidentifikasi pengertian, ciri dan aspek yang terkandung dalam
dalam Generasi Muda yaitu:
1.
Dilihat
dari segi biologis, ada istilah bayi, anak, remaja, pemuda dan dewasa ;
|
a)
Anak
1- 12 tahun
|
|
|
b)
Remaja
12 - 15 tahun
|
|
|
c)
Pemuda
15- 30 tahun
|
|
|
d)
Dewasa
30 tahun ke atas
|
2.
Dilihat
dari segi budaya atau fungsional dikenal istilah anak, remaja dan dewasa
|
|
a)
Anak
0-12 tahun
|
|
|
b)
Remaja
13-18 tahun
|
|
|
c)
Dewasa
18-21 tahun ke atas
|
Usia 18 tahun sudah dianggap dewasa, usia ini dalam menuntut
hak seperti hak pilih, ada yang mengambil 21 tahun sebagai permulaan dewasa.
Dilihat dari segi psikologis dan budaya, maka pematangan pribadi ditentukan
pada usia 21 tahun.usia 18 tahun sudah dianggap dewasa, usia ini dalam menuntut
hak seperti hak pilih, ada yang mengambil 21 tahun sebagai permulaan dewasa.
Dilihat dari segi psikologis dan budaya, maka pematangan pribadi ditentukan
pada usia 21 tahun.
Jika dilihat dari angkatan kerja ditemukan istilah tenaga
muda disamping tenaga tua. Tenaga muda adalah calon-calon yang dapat diterima
sebagai tenaga kerja yang diambil antara 18 sampai 22 tahun. Dan untuk
kepentingan perencanaan modern digunakan istilah sumber-sumber daya manusia
muda (Young human resources) sebagai salah satu dari 3 sumber-sumber
pembangunan yaitu:
|
|
a) Sumber-sumber alam (natural
resources)
|
|
|
b) Sumber-sumber dana (financial
resources)
|
|
|
c) Sumber-sumber daya manusia (human
resources)
|
Yang dimaksud dengan sumber-sumber daya manusia muda adalah
dari 0 – 18 tahun. Dilihat dari sudut ideologis-politis, maka generasi muda
adalah calon pengganti generasi terdahulu dalam hal ini berumur antara 18
sampai 30 tahun, dan kadang-kadang sampai umur 40 tahun.
Peran generasi muda atau pemuda dalam konteks perjuangan dan
pembangunan dalam kancah sejarah kebangsaan Indonesia sangatlah dominan dan
memegang peranan sentral, baik perjuangan yang dilakukan secara fisik maupun
diplomasi, perjuangan melalui organisasi sosial dan politik serta melalui
kegiatan-kegiatan intelektual. Masa revolusi fisik dalam merebut dan
mempertahankan kemerdekaan adalah ladang bagi tumbuh suburnya heroisme pemuda
atau generasi muda yang melahirkan semangat patriotisme dan nasionalisme.
Pemuda atau generasi muda yang hidup dalam nuansa dan suasana pergolakan
kemerdekaan dan perjuangan akan cenderung memiliki kreativitas tinggi dan
keunggulan untuk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan dan masalah yang
dihadapi, akan tetapi bagi para pemuda atau generasi muda yang hidup dalam
nuansa nyaman, aman dan tentram seperti kondisi sekarang, cenderung apatis,
tidak banyak berbuat dan hanya berusaha mempertahankan situasi yang ada tanpa
usaha dan kerja keras melakukan perubahan yang lebih baik dan produktif atau
bahkan cenderung tidak kreatif sama sekali.
Generasi muda memiliki posisi yang penting dan
strategis karena menjadi poros bagi punah atau tidaknya sebuah negara,
Benjamine Fine dalam bukunya 1.000.000 Deliquents, mengatakan "a
generation who will one day become our national leader". Generasi muda adalah
pelurus dan pewaris bangsa dan negara ini, baik buruknya bangsa kedepan
tergantung kepada bagaimana generasi mudanya, apakah generasi mudanya memiliki
kepribadian yang kokoh, memiliki semangat nasionalisme dan karakter yang kuat
untuk membangun bangsa dan negaranya (nation and character), apakah generasi
mudanya memilki dan menguasai pengetahuan dan tekhnologi untuk bersaing
dengan bangsa lain dalam tataran global dan tergantung pula kepada apakah
generasi mudanya berfikir positif untuk berkreasi yang akan melahirkan karya -
karya nyata yang monumental dan membawa pengaruh dan perubahan yang besar bagi
kemajuan bangsa dan negaranya.
B.
Pengertian, Peran, dan Fungsi
Pendidikan
Pendidikan adalah usaha manusia
untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani
maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan
kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan
norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk
dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses
pendidikan. Sehingga, pendidikan memiliki fungsi dan peran yang sangat penting
dalam kehidupan manusia.
Pendidikan berperan untuk memberikan arah terhadap pertumbuhan dan perkembangan
manusia dan lingkungannya. Pertumbuhan dan perkembangan dan perubahan tersebut
harus terorganisasi dan diarahkan sedemikian rupa menuju kepada tujuan akhir
pendidikan sebagaimana yang telah ditetapkan. Untuk itu sarana pendidikan atau
lembaga-lembaga pendidikan merupakan penyalur pendidikan itu sendiri.
Fungsi pendidikan dalam hidup dan kehidupan manusia diakui
bahwa pendidikan sebagai satu kekuatan (Education as Power) yang
menentukan prestasi dan produktivitas di bidang yang lain. Menurut Theodori
Brameld bahwa: “edication as power means competent and strang enough to
eneble us, the majority of people, to decide what kind of a world we want and
how to achieve that kind world”. Yaitu pendidikan sebagai kekuatan berarti
mempunyai kewenangan dan cukup kuat bagi kita, bagi rakyat untuk menentukan
satu dunia yang macam apa yang kita inginkan dan bagaimana mencapai dunia
semacam itu.
Pendidikan secara orientasi formal
di implementasikan pada jenjang sekolah. Walaupun pendidikan selalu saling ada
hubungan antara pendidikan formal dan informal. Karena, pendidikan formal
adalah untuk mempersiapkan tenaga-tenaga yang mampu memangku suatu jabatan
dalam fungsi sosial di masyarakat dalam upaya meningkatkan dan memajukan
masyarakat baik mental, berfikir, jenis-jenis keterampilan. Dan bahwa
pendidikan itu melaksanakan fungsi seluruh aspek kebutuhan hidup untuk
mewujudkan potensi manusia sebagai aktualitas sehingga mampu menjawab tantangan
dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat manusia dalam dinamika
hidup dan perubahan yang terjadi pada masa-masa yang akan datang. Sehingga,
sekolah harusnya mempunyai kualitas dan kuantitas meliputi guru, fasilitas,
bangunan gedung yang memadai guna mencapai pendidikan yang berhasil dan
pendidikan yang diutuhkan bangsa dan negeri serta dunia ini.
C.
Pengertian dan Peran Guru
Guru dalam bahasa jawa adalah
menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan
masyarakat. Harus digugu artinya segala
sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakkini sebagai
kebenaran oleh semua murid. Sedangkan ditiru
artinya seorang guru harus menjadi suri teladan (panutan) bagi semua muridnya.
Secara tradisional guru adalah
seorang yang berdiri didepan kelas untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.
Guru sebagai pendidik dan pengajar anak, guru diibaratkan
seperti ibu kedua yang mengajarkan berbagai macam hal yang baru dan sebagai
fasilitator anak supaya dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan
kemampuannya secara optimal,hanya saja ruang lingkupnya guru berbeda, guru mendidik dan mengajar di sekolah
negeri ataupun swasta.
1. Menurut Noor
Jamaluddin (1978: 1) Guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung
jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan
jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat
melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai
makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri.
2. Menurut Peraturan Pemerintah
Guru adalah jabatan fungsional, yaitu kedudukan yang menunjukkan tugas,
tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu organisasi yang dalam
pelaksanaan tugasnya didasarkan keahlian atau keterampilan tertentu serta
bersifat mandiri.
3. Menurut Keputusan Men.Pan Guru adalah Pegawai Negeri Sipil yang
diberi tugas, wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk
melaksanakan pendidikan di sekolah.
4.
Menurut Undang-undang No. 14
tahun 2005 Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,
dan pendidikan menengah.
Adapun peran-peran Guru tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Guru Sebagai
Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi
tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya.
Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup
tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Peran guru sebagai pendidik (nurturer) berkaitan dengan
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh
pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas
dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan,
pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup
berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan
spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan
anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap
aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma
yang ada.
2.
Guru Sebagai
Pengajar
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam kegiatan belajar
peserta didik dipengaruhi oleh berbagai factor, seperti motivasi, kematangan,
hubungan peserta didik dengan guru, kemampuan verbal, tingkat kebebasan, rasa
aman dan keterampilan guru dalam berkomunikasi. Jika factor-faktor di atas
dipenuhi, maka melalui pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik.
Guru harus berusaha membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan
terampil dalam memecahkan masalah.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan
oleh seorang guru dalam pembelajaran, yaitu: Membuat ilustrasi, Mendefinisikan,
Menganalisis, Mensintesis, Bertanya, Merespon, Mendengarkan, Menciptakan
kepercayaan, Memberikan pandangan yang bervariasi, Menyediakan media untuk
mengkaji materi standar, Menyesuaikan metode pembelajaran, Memberikan nada
perasaan.
Agar pembelajaran memiliki kekuatan
yang maksimal, guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mempertahankan dan
meningkatkan semangat yang telah dimilikinya ketika mempelajari materi standar.
3.
Guru Sebagai
Pembimbing
Guru dapat diibaratkan sebagai
pembimbing perjalanan, yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya
bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah
perjalanan tidak hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental,
emosional, kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks.
Sebagai pembimbing perjalanan guru memerlukan kompetensi
yang tinggi untuk melaksanakan empat hal berikut:
a) Guru harus
merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai.
b) Guru harus
melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, dan yang paling penting
bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar itu tidak hanya secara
jasmaniah, tetapi mereka harus terlibat secara psikologis.
c) Guru harus
memaknai kegiatan belajar.
d) Guru harus
melaksanakan penilaian.
e) Guru Sebagai Pemimpin
f) Guru diharapkan
mempunyai kepribadian dan ilmu pengetahuan. Guru menjadi pemimpin bagi peserta didiknya. Ia akan menjadi
imam.
5.
Guru Sebagai
Pengelola Pembelajaran
Guru harus mampu menguasai berbagai
metode pembelajaran. Selain
itu, guru juga dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar
supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman.
6.
Guru Sebagai
Model dan Teladan
Guru merupakan model atau teladan bagi
para peserta didik dan semua orang yang menganggap dia sebagai guru. Terdapat
kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk
ditentang, apalagi ditolak. Sebagai teladan, tentu saja pribadi dan apa yang
dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar
lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Ada beberapa hal
yang harus diperhatikan oleh guru: sikap dasar, bicara dan gaya bicara,
kebiasaan bekerja, sikap melalui pengalaman dan kesalahan, pakaian, hubungan
kemanusiaan, proses berfikir, perilaku neurotis, selera, keputusan, kesehatan,
gaya hidup secara umum.
Perilaku guru sangat mempengaruhi
peserta didik, tetapi peserta didik harus berani mengembangkan gaya hidup
pribadinya sendiri.
Guru yang baik adalah yang menyadari
kesenjangan antara apa yang diinginkan dengan apa yang ada pada dirinya,
kemudian menyadari kesalahan ketika memang bersalah. Kesalahan harus diikuti
dengan sikap merasa dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
7. Sebagai Anggota Masyarakat
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat.
Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan disegala bidang
yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang
dikuasainya. Guru perlu juga memiliki kemampuan untuk
berbaur dengan masyarakat melalui kemampuannya, antara lain melalui kegiatan olah
raga, keagamaan dan kepemudaan. Keluwesan bergaul harus dimiliki, sebab kalau tidak
pergaulannya akan menjadi kaku dan berakibat yang bersangkutan kurang bisa diterima oleh
masyarakat.
8.
Guru sebagai administrator
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar,
tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Guru
akan dihadapkan pada berbagai tugas administrasi di sekolah. Oleh karena itu
seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan
dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik.
Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat
hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah
melaksanakan tugasnya dengan baik.
9.
Guru Sebagai
Penasehat
Guru adalah seorang penasehat bagi
peserta didik juga bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan
khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk
menasehati orang.
Peserta didik senantiasa berhadapan
dengan kebutuhan untuk membuat keputusan dan dalam prosesnya akan lari kepada
gurunya. Agar guru dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasihat
secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu
kesehatan mental.
10.
Guru Sebagai
Pembaharu (Inovator)
Guru menerjemahkan pengalaman yang
telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini,
terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain,
demikian halnya pengalaman orang tua memiliki arti lebih banyak daripada nenek
kita. Seorang peserta didik yang belajar sekarang, secara psikologis berada
jauh dari pengalaman manusia yang harus dipahami, dicerna dan diwujudkan dalam
pendidikan.
Tugas guru adalah menerjemahkan
kebijakan dan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau bahasa moderen
yang akan diterima oleh peserta didik. Sebagai jembatan antara generasi tua dan
genearasi muda, yang juga penerjemah pengalaman, guru harus menjadi pribadi
yang terdidik.
11.
Guru Sebagai
Pendorong Kreatifitas
Kreativitas merupakan hal yang sangat
penting dalam pembelajaran dan guru dituntut untuk mendemonstrasikan dan menunjukkan
proses kreatifitas tersebut. Kreatifitas merupakan sesuatu yang bersifat
universal dan merupakan cirri aspek dunia kehidupan di sekitar kita.
Kreativitas ditandai oleh adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya
tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau adanya kecenderungan untuk
menciptakan sesuatu.
Akibat dari fungsi ini, guru senantiasa
berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik,
sehingga peserta didik akan menilaianya bahwa ia memang kreatif dan tidak
melakukan sesuatu secara rutin saja. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang
akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan
sebelumnya.
12.
Guru Sebagai Emansipator
Dengan kecerdikannya, guru mampu memahami potensi peserta didik,
menghormati setiap insan dan menyadari bahwa kebanyakan insan merupakan “budak”
stagnasi kebudayaan. Guru mengetahui bahwa pengalaman, pengakuan dan dorongan
seringkali membebaskan peserta didik dari “self image” yang tidak menyenangkan,
kebodohan dan dari perasaan tertolak dan rendah diri. Guru telah melaksanakan
peran sebagai emansipator ketika peserta didik yang dicampakkan secara moril
dan mengalami berbagai kesulitan dibangkitkan kembali menjadi pribadi yang
percaya diri.
13.
Guru Sebagai Evaluator
Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang
paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta
variable lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang
hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Teknik
apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang
jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak
lanjut.
14.
Guru Sebagai Kulminator
Guru adalah orang yang mengarahkan proses belajar secara
bertahap dari awal hingga akhir (kulminasi). Dengan rancangannya peserta didik
akan melewati tahap kulminasi, suatu tahap yang memungkinkan setiap peserta
didik bisa mengetahui kemajuan belajarnya. Di sini peran kulminator terpadu dengan
peran sebagai evaluator.
Guru sejatinya adalah seorang pribadi yang harus serba bisa
dan serba tahu. Serta mampu mentransferkan kebisaan dan pengetahuan pada
muridnya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan dan potensi anak didik.
Begitu banyak peran yang harus diemban
oleh seorang guru. Peran yang begitu berat dipikul di pundak guru hendaknya
tidak menjadikan calon guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran
tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi bagi calon guru. Dia harus
menyadari bahwa di masyarakat harus ada yang menjalani peran guru. Bila tidak,
maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh. Penuh ketimpangan dan
akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran.
Dari ketiga belas peran guru
tersebut menegaskan bahwa guru harus memiliki kompetensi yang layak dan
mempunyai kepribadian yang baik. Dan hal itu tentunya harus didukung pula oleh
pihak pihak pemerintah dan lembaga berwenang di bidangnya yang ditugasi
menyeleksi standarisasi guru dan memfasilitasi segala kebutuhan guru. Sehingga apa
yang diajarkan kepada generasi muda Indonesia mampu membawa perubahan yang baik
dan luar biasa.
D.
Kualitas Pendidikan di Indonesia
Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di
Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana
belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya harapan terpendam yang
tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru saat ini kurang
kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain
atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan
dirinya menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki
pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi
masalah gaji guru. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi
pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman
yang pensiun.
Sarana
pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di
Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk
di daerah terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang
benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan
mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya,
antara lain guru dan sekolah. “Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah
sepenuhnya,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas
di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/3/2007).
Presiden
memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain yaitu:
1. Langkah pertama
yang akan dilakukan pemerintah, yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat
untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. Tolak ukurnya dari angka
partisipasi.
2. Langkah kedua,
menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti ketidakmerataan
di desa dan kota, serta jender.
3. Langkah ketiga,
meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen,
serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.
4. Langkah
keempat, pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi
atau profesi sekolah kejuruan. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang
dibutuhkan.
5. Langkah kelima,
pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer
dan perpustakaan di sekolah-sekolah.
6. Langkah keenam,
pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. Untuk tahun ini dianggarkan
Rp 44 triliun.
7. Langkah
ketujuh, adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.
8. Langkah
terakhir, pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas
penddikan.
E.
Masalah Kesenjangan Pendidikan
(Sekolah) di Pelosok dan Kota di Indonesia
Tidak hanya ranah sosial masyarakat, agama, politik, ataupun
antar negara yang tertimpa musibah kesenjangan. Pendidikan Indonesia pun
terjangkit penyakit kesenjangan. Kesenjangan adalah ketika terdapat ketidak
seimbangan atau ketidakadilan pada suatu pihak, lembaga, daerah, hak,
kewajiban, kebijakan atau hal lainnya
yang mempunyai dua perbedaan. Dengan kata lain kesenjangan adalah perbedaan
satunya positif dan satunya negatif.
Kesenjangan pendidikan Indonesia meliputi beberapa aspek
diantaranya, adalah guru, fasilitas, kurikulum, materi ajar, buku, bangunan
gedung sekolah, akses menuju sekolah, metode ajar dan lain sebagainya. Aspek
yang benar terasa kesenjangannya adalah
fasilitas sekolah. Fasilitas sekolah jelas terlihat oleh indra penglihatan
kita. Kita bisa melihat dengan jelas perbedaan fasilitas pendidikan di kota dan
di pelosok walupun kita tidak langsung
terjun sebagai pelaku pendidikan di pelosok. Gedung yang tak layak, basah
ketika hujan, banjir dan tak sedikit yang kepanasan. Jangankan berharap belajar
di laboratorium layaknya sekolah perkotaan, gedung kelas saja memprihatinkan.
Guru yang hebat bukanlah guru yang pandai dan memiliki
pengetahuan yang luas. Bukan guru yang piawai dalam menerangkan pelajaran.
Bukan pula guru yang terampil membimbing praktik di laboratorium. Lebih dari
semua itu, guru yang hebat adalah guru yang mampu memberi inspirasi kepada
orang-orang di sekitarnya, lebih khusunya adalah kepada murid-muridnya.
Adapun kesenjangan selanjutnya adalah kualitas guru. Guru-guru
yang berkualitas akan menghasilkan system pendidikan yang berkualitas dan pada
akhirnya akan melahirkan generasi yang berkualitas pula. Akan tetapi, dengan
keadaan dan lingkungan yang beragam, fakta fenomena di lapangan menunjukkan
bahwa hingga saat ini kualitas pendidikan di Indonesia tampaknya memang belum
merata. Kenapa seperti itu? Ini karena, dengan alasan yang sama, yakni kualitas
guru di negeri ini juga masih belum merata.
Secara kasat mata, ada perbedaan yang sangat mencolok antara
guru-guru di wilayah perkotaan dengan guru-guru di pinggiran kota, apalagi
dengan guru-guru yang berada di pelosok desa. Ada kesenjangan yang tersirat
antara guru-guru di sekolah negeri dengan guru-guru di sekolah swasta. Ada gap
yang signifikan, antara sekolah-sekolah benefit di perkotaan dengan
sekolah-sekolah kumuh di pelosok desa.
Sesungguhnya, bangsa ini banyak memiliki sosok guru yang
cerdas, pintar dan terampil. Akan tetapi, sebuah kesenjangan pemerataan
kualitas pendidikan selalu menjadi momok bagi semua orang di negeri ini. Maka,
untuk membenahi kondisi ini tentu saja merupakan sebuah tantangan berat dan
menjadi tanggung jawab bersama. Bagaimanapun, semua pihak harus terlibat di
dalamnya, tidak hanya saling menyalahkan antara pemerintah dengan rakyat
jelata, antara guru dengan system pendidikan. Semuanya harus menghadirkan
gerakan yang serempak dan sinergis.
Kesenjangan Fasilitas dan kompetensi guru ini mengakibatkan
timbul masalah baru yaitu, standarisasi kelulusan. Saat ini standarisasi
pendidikan nasional di ukur dengan lulus dalam megikuti ujian nasional dengan
soal yang sama dari sabang sampai merauke, dari desa hingga kota. Mengapa
masalah? Secara jelas mengenai metode belajar, guru, fasilitas, materi ajar
sudah berbeda. Lalu bangaimana bisa standarisasi kelulusan disamakan? Sungguh
tidak adil.
Kita tidak bisa terus menerus menyalahkan pemerintah yang
gagal menjalankan pemerataan progam selama ini. Pemerintah selalu berusaha
mengupayakan pemerataan tersebut namun karena, pihak yang terlibat tidak hanya
dari pemerintah masalah pemerataan ini tak kunjung rampung. Faktanya banyak
guru di pelosok yang awalnya adalah guru honor dan oleh pemerintah dijaikan
guru PNS tidak menjalankan amanat suci
untuk mengajar tersebut dengan benar dan bertanggung jawab. Mereka hanya
memanfaatkan perhatian pemerintah kepada sekolah pelosok untuk mendapatkan jabatan
PNS dan kemudian menyalanggunakannnya dengan malas mengajar hingga manipulasi
absen karena akses menuju sekolah yang sulit sehingga murid yang merupakan
generasi muda ini terabaikan dan tak terurus sungguh miris dan menyedihkan. Padahal
pemerintah telah memberikan gaji yang lebih beserta tambahan tunjangn per
bulannya agar banyak guru yang mau mengajar di pelosok. Fakta telah berbicara
seperti yang terjadi di pelosok Kalimantan Timur tepatnya di Kota Berau sungguh
menguras tangis.
Cara mengajar guru di
pelosok dan kota yang berbeda. Mereka mengajar seadanya dengan fasilitas
sederhana, bahkan tidak sedikit sekolah yang tidak mempunyai fasilitas untuk
menunjang kinerja guru dalam bekerja. Banyak dari guru di pelosok desa mengajar
dengan aliran keras, seperti memukul, membentak dan sebagainya. Mungkin itu
karena tuntutan keadaan mereka, atau mungkin karena mereka sudah bosan
menghadapi ketidak adilan system pendidikan di negeri ini. Mungkin benar jika
pemerataan fasilitas sekolah oleh pemerintah belum tuntas. Mengakibatkan
pendidikan di pelosok masih kurang berkembang dan kita berhak menuntut atas itu namun, masih ada
guru yang tidak bertanggung jawab yang juga harus kita benahi.
F.
Solusi dari Permasalahan Kesenjangan
Pendidikan di Indonesia
Setiap
permasalahan pasti ada penyelesaian yang disebut solusi. Permasalahan
pendidikan di Indonesia tidak sedikit dan solusinya pun tidak semudah
membalikkan telapak tangan tak hanya itu permasalahannya pun melibatkan banyak
pihak, mulai dari Pemerintah, tenaga pendidik (guru), lembaga pendidikan, dan lain
sebagainya. Sehingga solusinya harus membenahi kerancuan-kerancuan pada setiap
sendi pihak yang terlibat. Dan adapun pihak yang terlibat yang harus di benahi;
1.
Pemerintah
a)
Pemerintah harus merancang, membentuk system pendidikan
yang jelas dan terstruktur.
b)
Pemerintah harus melakukan pengawasan lebih terhadap
berjalannya suatu kebijakan pendidikan
c)
Pemerintah harus mampu menyeleksi guru secara merata,
tidak hanya guru di kota.
d) Pemerintah harus mampu memeratakan distribusi
fasilitas ke sekolah pelosok
2.
Guru
a)
Guru harus mampu bertanggung jawab, mendahulukan hak
daripada kewajiban
b)
Guru harus memiliki kompeten yang layak walaupun untuk
sekolah pelosok
c)
Guru harus memiliki kepribadian yang baik, jujur dan
disiplin
d) Guru harus mau menjalankan tugasnya dengan
penuh tanggung jawab
e)
Guru harus mampu mengembangkan sekolah melalui inovasi
baru dan aktif dalam proses perkembangan dan pertumbuhan sekolah dengan cara
mengajukan permohonan kepada pemerintah sehingga sekolah- sekolah pelosok
tersebut terjamah dan nantinya akan mendapat perhatian dan pembenahan oleh
pemerinntah.
f)
Dan guru harus mempunyai kesadaran tinggi bahwa
mengabdikan diri mengajar di pelosok negeri membuktikan bahwa guru adalah
pahlawan masa kini dan masa depan, serta pahlawan tanpa tanda jasa.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kualitas
pendidikan di pelosok Indonesia
masih sangat rendah bila di bandingkan dengan kualitas pendidikan di kota. Hal-hal yang
menjadi penyebab utamanya yaitu kesenjangan fasilitas, guru dan
standardisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya
yang menjadi penyebabnya yaitu:
1. Rendahnya
sarana fisik,
2. Rendahnya
kualitas guru,
3. Rendahnya kesadaran guru,
4. Rendahnya pemerataan pendidikan,
Adapun solusi
yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain dengan mengubah
sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan, dan meningkatkan
kualitas guru serta prestasi siswa.
B. Saran
Perkembangan dunia di era globalisasi
ini memang banyak menuntut perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih
baik serta mampu bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara
yang harus di lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan
negara-negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih
dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan
berarti sumber daya manusia yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan
mampu membawa bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia
internasional.
DAFTAR PUSTAKA
2.
Annehira.blogspot.com
3.
Wikipedia.blogspot.com
4.
http.tribunnews.com
5.
http.kompas.com